Bagian 2: Perjalanan di mulai

Aku terbangun, itu sudah pukul 7 pagi. 

Perlahan kubangkit duduk, ditepi ranjang itu aku berdoa. "Selamat pagi Tuhan Yesus, aku masih hidup hari ini! Terima kasih", bicaraku dalam hati. 

Aku mulai merapikan tempat tidur dan menyapu lantai kamarku. Sudah rapi. Tidak. Sepertinya aku perlu mengganti seprei-nya. 

Aku kemas semua seprei lama dan pakaian kotor. Aku perlu singgah ke tempat laundry sebelum ke RS nanti, pikirku. 

Tidak lupa mencuci "dalaman" yang terjerembab lama dalam ember di kamar mandi. Menanti nanti diurus tuannya segera. Baiklah, aku urus kalian sekarang. 

Ternyata aku produtif juga pagi ini (hehehe). 

Entahlah, apa mungkin ini sindrom kecemasan sebelum ke RS?! 

Ah sudahlah. 

Selepas menjemur cucian, buru-buru aku mandi. Berpakaian. Juga menyiapkan semua keperluan nanti di RS. 

Aku keluar dari kosan. Udara di luar begitu hangat. Mataharinya berseri sekali. Pakaian kotor sudah ditempat laundry, saatnya memesan "grab car". 

Aku tiba RS Bethesda tepat pukul 9 pagi. 

Tampak luar, bangunannya cukup tua. Estetik menurutku. Tapi ketika masuk ke dalam, wow, sangat modern. Aku seperti melihat harapan, hehehe... 

Aku mengambil nomor antrian dan memilih pembiayaan mandiri. Pemilihan pembiayaan itu sangat berpengaruh. Begitu cepatnya aku langsung duduk di meja pendaftaran dan siap menuju ruang pemeriksaan. Kesannya sangat sat set cuss... 

Yaa cuss... aku dihadapan dokter sekarang, seorang spesialis penyakit dalam. Dokternya telah berusia, tapi caranya menanganiku membuktikan pengalamannya tidak termakan usia. Aku dirujuk lagi. 

Dokter dan asistennya sangat sigap juga pengertian. Mereka turut memikirkan pembiayaan kesehatanku untuk jangka panjang. Menyarankan aku memanfaatkan BPJS jika nanti akan ada penanganan lanjut ke depan bersama dokter spesialis paru. 

Aku manut saja. Sebenarnya aku hanya ingin proses awal ini menyenangkan. Saat melewati bagian umum. Tanpa perlu mengantri. Dilayani tanpa banyak administrasi. Berasa sat set cuss saja gituu 🤣

Aku akhirnya naik ke lantai 2. Menyusuri beberapa lorong dan sampai di poli paru. Seperti biasa senyum ramah dari perawatnya menyambutku. 

Tensiku normal, BB dan TB ku juga ideal. Aku langsung diarahkan ke ruang pemeriksaan. 

Seperti halnya dokter spesialis penyakit dalam tadi, dokter spesialis paru ini juga tergolong sepuh. Aku ditanyakan semua riwayat sakit dan dilihat hasil rontgen semalam di IGD. Benar ada massa di paru kanan. Perlu di CT scan. 

Di ruangan itu juga banyak dokter muda yang sedang koas. Temuan di paru-paru ini jadi bahan belajar mereka juga. Tubuhku tidak hanya di periksa oleh dokter seniornya tapi juga semua dokter junior itu. Sedikit canggung sih. Tapi ya sudahlah. Anggap saja aku ikut beramal ilmu buat mereka. 

Dokternya juga menyarankan aku memanfaatkan BPJS. Segera mengurus rujukan dari faskes 1 biar bisa CT scan dengan biaya yang lebih terjangkau. Aku terlalu halu. Perjalanan indah dengan pembiayaan mandiri harus berhenti disini 🤣

Aku dijadwalkan bertemu kembali di selasa atau jumat depan, sesuai jadwal dokter tadi. 

Selasa aku ada jadwal kuliah. Aku hanya bisa berharap di jumat. Okelah. Janji temu dibuat. 

Saatnya menuju faskes 1, dan minta rujukannya. 


Tidak butuh waktu lama, rujukan itupun jadi. Siap bertemu di jumat nanti. 

Aku pulang dengan perasaan yang ramai. Entahlah bagaimana jumat nanti. Aku hanya ingin kamarku sekarang. 


📝 16/05/25
📍 Karangwuni

Komentar

Postingan Populer