Bagian 3: Melepas Pengampunan
Beberapa hari ini, pikiranku kusut. Antrian tugas presentasi tanpa jeda, jadwal perkuliahan yang tak bisa kubantah, penelitian tesis didepan mata, ditambah perkara tubuh yang terus saja kisut, lemas dan nyeri yang tak mau pergi. Harus hadapi semua itu sendiri. Duduk mendekap lutut di sudut ranjang, itu kenyamanan satu satunya.

Scrolling medsos, menatap tiktok dengan segala algoritmanya yang menjadi, makin pening saja. Semakin mencari tahu, semakin tidak tahu, yang ada hanya kepikiran berkepanjangan, mata lelah dan sakit kepala.
Tumor memang semengerikan itu! Berusaha mencari cara: pola makan, pola hidup, pola pikiran, pola napas, meditasi, grounding, herbal, holistik, testimoni, semuanya terus dicari dengan ketakutan tapi penasaran. Tiktok selalu berhasil dengan algoritmanya yang konsisten, buat tangan, hati dan pikiran ini ikutan penuh. Terjebak!
Sudahlah. Pasrah saja.
Dering hape ikutan intens. Sepenuhnya itu bukan orang terdekat. Keluarga rohani memang paling peduli.
Para hamba Tuhan mendoakan dan menghibur, menanyakan update kondisi juga beri saran pengobatan alternatif, tentu tetap mengutamakan medis. Agar beriringan.
Hanya bisa bilang: Iya dan Terima kasih, disusul air mata, batuk juga sesak. Dalam hati, sangat terharu dengan semua kepedulian mereka, yang sebenarnya bukan keluarga dekat atau sedarah.
Siang ini, aku dihubungi lagi oleh seorang ibu, hamba Tuhan dari pulau seberang. Ternyata aku sudah didoakannya sedari malam sebelumnya. Wah, lagi lagi aku terharu.
Ada pesan spesifik yang ia titip: mengampuni dan meminta pengampunan.
Sekian lama aku hidup, aku sudah tak tau lagi: benar salahnya hidupku. Aku sampai lupa, sejauh apa aku pernah menyakiti dan disakiti. Tak pernah terhitung juga olehku setinggi apa rasa pahit yang tertumpuk selama ini dalam hati. Benar benar, sudah mati rasa dan lupa ingatan.
Entahlah. Aku sendiripun bingung. Ini karena luka yang terlampau sakit sampai terhilang begitu saja dari memori? Ataukah aku malah sedang menguburnya dalam dalam tanpa bertanya, karena tak ingin hal itu menyakitiku lagi?
Aku menjawab hamba Tuhan: aku tak ingat apa apa lagi. Aku bahkan tak tau, benar salahnya aku, dan tak sadar apa yang kuperbuat: orang lain tersakiti atau aku sendiri yang merasa tersakiti.
"Apa aku perlu meminta maaf kepada mereka semua? , " tanyaku penuh sesak. Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa kutahan. Tunggu, kenapa aku harus menangis? Aku tak mau!
Apa yang salah denganku?
Aku tak mengingat apa-apa, tak mau berusaha juga untuk mengingat apapun, tapi kenapa saat aku bilang "meminta maaf", suaraku malah tercekat disusul air mata yang jatuh tanpa aku suruh.
Aku kembali didoakan.
Aku terluka.
Luka itu dalam dan mengendap lama.
Rasanya pahit.
Ia tenggelam tak terurai.
Ia mengakar tanpa aku sadar.
Tumbuh menjalar dalam hatiku.
Dadaku penuh sesak.
Tak bisa bicara apalagi teriak.
Itu terlalu sakit ditahan.
Napasku terengah.
Tanpa bisa kumuntahkan pahit itu.
Rasa ini, rasa yang sekian lama aku kubur dan tak mau dia bangun.
Ia menggerogoti pikiranku, hatiku, tubuhku dan kini sedang menuju jiwaku.
Aku kembali didoakan.
Aku berusaha melepaskan kepahitan itu.
Aku meminta pengampunan.
Aku melepas pengampunan.
Satu per satu aku hubungi. Aku meminta maaf untuk semua kesalahanku yang telah menyakiti mereka. Dan aku lepaskan semua kemarahan dan rasa sakit atas mereka yang telah menyakitiku.
Aku juga memohon pengampunan dan belas kasih Tuhan! Izinkan Ia menyapu setiap yang kotor dalam hatiku. Aku sudah berupaya, Tuhan saja yang mengurus sisanya untuk jiwaku.
Lega.
Itu nyanyian rasa paling syahdu sekarang. Aku terlelap. Ini adalah tidur ternikmat sekujur hidupku.
Mengampuni - bukan tentang mereka yang menyakiti, ini tentangku! Kebaikan hidupku. Pemulihan jiwaku.
📝 18/05/25
📍 Karangwuni
Komentar
Posting Komentar