Bagian 1: IGD
Rasa tertusuk, sesak, dan tidak lega tiap tarikan napas semakin menjadi. Apalagi saat tarikan napas yang dalam dan panjang. Beuuuh, sakitnya luar biasa.
Dengan sedikit gugup, aku menghubungi semua orang dekat via whatapps. Puji Tuhan, ada winanda yang sigap! (So thankful for her).
Sesampainya di tempat tujuan, semua administrasi dibantu pengurusannya oleh winanda, adik teman baikku, yang kini jadi "penolongku".
Aku dilayani dengan baik. Semua riwayat sakitku dicari tahu oleh perawat dan dokternya. Disarankan juga untuk aku segera rontgen dada. Aku manut saja.
Fasilitas rontgennya juga bagus, tak perlu lepas baju seperti yang aku pernah jalani di kampungku beberapa tahun lalu.
Hasilnya, ada yang aneh di bagian kanan dada. Seperti massa. Perlu pemeriksaan lanjut.
Aku disarankan opname malam itu juga. Tapi aku keberatan. Pikiranku masih kesana kemari, memikirkan tugas kuliah yang menumpuk dan jadwal presentasi yang mengantri. Sepertinya aku perlu waktu lebih dan tempat hening untuk berpikir, tentu itu di kamar kosanku.
Dokternya pengertian. Aku diresepkan obat anti nyeri, anti mual dan muntah. "Besok pagi, kamu mesti ke sini untuk konsultasi lanjutan dengan dokter spesialisnya. Sesegera mungkin selesaikan masalah kesehatan ini, " tegas dokternya lagi sebelum akhirnya aku benar-benar diizinkan pulang ke kosan.
Langsung saja aku meminum pil yang sudah diresepkan, saat itu juga. Ya, biar sesampai kosan nanti, aku bisa langsung rebahan.
Pembayaran selesai, aku dan winandapun pulang. Yang aku inginkan hanya segera tidur di tempat tidurku. Pikiranku lelah dan berat dengan banyak pertimbangan.
Akhirnya tiba kosan. Aku memulai tidur dengan banyak drama, mencari cari posisi tidur yang tidak menyakitkan dan menyesakkan dadaku.
Malam itu aku ditemani dengan mimpi mimpi aneh yang saling berdatangan. Aku anggap saja mereka sedikit membantuku, melepaskan penat pikiranku. Karena besok pagi, aku harus menghadapi kenyataan baru!
📝15/05/25
📍Karangwuni
Komentar
Posting Komentar