Bagian 5: Jumat yang dinanti, Tiba!
Butuh waktu lebih lama bagiku untuk menuliskan kejadian di hari Jumat ini. Jumat yang dinanti akhirnya tiba! Sekaligus menjadi hari yang mendebarkan.
Ini 23 Mei 2025. Tepat pukul 9 pagi, aku tiba di poli paru. Setelah menyampaikan maksud kedatanganku kepada perawat dan beberapa dokter muda yang sedang bertugas, aku diminta duduk sebentar. Mengantri. Aku memilih tempat yang tak jauh dari ruang pemeriksaan.
Suasana masih cukup sepi, pasien yang menunggu tidak lebih dari lima orang. Aku melirik ke ruang pemeriksaan—rupanya dokter Iswanto ada di sana, tengah berbincang dengan seorang pasien.
Jantungku berdebar tak henti, berlari seperti atlet maraton. "Tolong jalan santai sejenak," batinku, sedikit kesal.
Satu antrean berlalu, akhirnya namaku dipanggil. Selain dokter Iswanto, ada empat dokter lainnya di ruangan itu. Mereka berdiri berkerumun di belakang kursi sang dokter senior, mengenakan masker, berseragam merah tua, dengan mata penuh rasa ingin tahu—semuanya masih sangat muda.
Dokter Iswanto membuka percakapan dan langsung menerangkan hasil CT scan kemarin siang. Benar, di paru-paru kananku ada tumor. Ukurannya cukup besar: 8,6 × 7,6 × 9 cm.
Ia melanjutkan dengan menjelaskan prosedur biopsi—tindakan wajib bagi pasien tumor. Dalam kasusku, biopsi dilakukan dengan menusukkan jarum besar ke dada kanan hingga menembus massa tumor di paru-paru. Sampel akan diambil, kemudian diuji di laboratorium untuk mengetahui jenis dan stadium tumornya.
Aku terdiam. Penjelasannya begitu gamblang, ditambah gambar mekanisme biopsi yang ditunjukkan kepadaku. Semua itu terasa begitu nyata, menembus akalku. Pikiran-pikiranku berkelana liar, membayangkan proses medis yang belum pernah aku jalani.
Tiba-tiba dokter bertanya sesuatu, tapi aku seperti kehilangan pendengaran. Mungkin aku mengalami shock!
Saat akhirnya tersadar, aku bertanya, "Gimana, Dok?"
Dokternya tersenyum, menarik napas sebentar, lalu mencoba menjelaskan ulang. Namun sebelum ia selesai, aku menimpali, "Apakah prosedur ini aman?"
Jawabannya membuatku makin gelisah. "Tidak berbahaya, tapi berisiko. Biopsi pada tumor paru sering kali menyebabkan paru-paru menjadi gembos alias bocor, dan bisa menyebabkan batuk berdarah," katanya.
Pikiranku semakin bergejolak. Aku membayangkan tumor itu pecah saat ditusuk, lalu menyebarkan sel-selnya ke seluruh sudut paru-paruku. Apa yang akan terjadi padaku nanti? Aku semakin kalut.
Dokter kembali menjelaskan bahwa jika terjadi efek samping, akan ada penanganan lanjutan untuk meminimalisir risiko. Jika cairan menumpuk, lubang kecil akan dibuat di samping dadaku untuk mengeluarkan cairan berlebih itu.
Aku lemas. Kepalaku tertunduk, tanpa sadar bersandar ke kaca pembatas meja dokter. Rasanya ingin luruh, seperti embun yang menguap di permukaan kaca itu.
Berupaya sekuat waras, aku mengutarakan beberapa pertanyaan yang terus berkecamuk di pikiranku: Apakah ada banyak kasus seperti yang aku alami di sini? Apa yang terjadi pada mereka setelah menjalani semua prosedur medis itu?
"Sejauh ini ada sekitar tiga kasus tumor paru," jawab dokter. "Dan untuk usia muda sepertimu, kemungkinan penyembuhan lebih cepat dibandingkan pasien yang sudah berumur atau lansia."
Aku berusaha mencerna hasil obrolan ini, mencoba tetap tenang—setenang mungkin. Namun pikiranku masih terganggu oleh pernyataan: kemungkinan penyembuhannya.
Selanjutnya, dokter meresepkan beberapa obat: pereda batuk, pengencer dahak, dan vitamin B kompleks. Aku juga diminta untuk kembali kontrol dan menjalani biopsi pada 24 Juni 2025. Selain itu, dokter mewajibkanku mengabarkan keluarga terdekat dan meminta mereka hadir saat tindakan medis nanti dilakukan.
Aku punya waktu sebulan untuk mempertimbangkan semuanya. Menjadi pasien BPJS ternyata ada hikmahnya—meski harus menunggu sebulan untuk jadwal biopsi, aku justru punya lebih banyak waktu mempersiapkan diri, atau lebih tepatnya, mengumpulkan keberanian.
Aku keluar dari ruangan itu dengan hati yang kucoba selapang mungkin. Langkahku membawa tubuh ini ke ruang farmasi. Kuambil semua obat yang telah diresepkan. Lalu menuju unit radiologi, mencetak hasil CT scan kemarin serta lembar diagnosisnya.
Perjalanan pulang terlihat cukup berat. Hati yang kupaksa untuk tetap lapang mulai terasa semakin sesak. Aku duduk sebentar di pelataran depan rumah sakit, mencoba berpikir jernih sambil memesan Gojek.
Tak lama, bapak Gojek itu tiba. Rambutnya gondrong, bergelombang, dengan beberapa untaian putih di sana. Matanya tajam, gaya santainya mengingatkanku pada Sujiwo Tejo. Dari jauh ia melambaikan tangan. Senyumnya begitu lebar. Saat mendekat, ia menyapaku dengan ramah, "Apa kabarmu hari ini?"
Lucu juga, menyenangkan hati. Jarang sekali aku mendapat driver Gojek yang sehangat ini 😁
"Kabarku baik, Pak," jawabku sambil duduk di boncengannya.
Sepertinya ia melihat map CT scan-ku yang besar. Wajahku pun langsung dikenali—bukan wong Jowo. Sepanjang perjalanan, kami berkenalan dan mengobrol tentang banyak hal: tentang anak NTT di kosannya yang ramah, tidak pilih-pilih soal pekerjaan.
"Anak-anak NTT itu pekerja keras, karena selain kuliah, mereka juga bekerja," katanya.
Aku coba bercanda, "Bandel nggak anak-anak itu, Pak?"
Ia tertawa kecil sambil menggelengkan kepala, rupanya si Bapak punya kesan yang baik terhadap anak anak itu. Syukurlah. Obrolan kami terus berlanjut, melebar ke sana-kemari, hingga akhirnya sampai juga pada kesehatanku.
Ia berbagi kisah—tentang kakaknya yang juga mengalami tumor paru, tetapi sembuh tanpa operasi. Saudaranya rutin meminum ramuan herbal: air rebusan daun sukun. Ia menyarankan hal yang sama kepadaku, sebagai bagian dari ikhtiar, sembari tetap menjalani pengobatan medis sesuai anjuran dokter.
Aku ikut larut dalam obrolan ini. Rasanya ada aliran energi baik di sepanjang perbincangan kami. Ia bahkan meminta izin untuk mengambil nomor HP-ku, yang tanpa ragu kuberikan.
Sampai juga di kosan. Sebelum pamit, ia menatapku dengan penuh keyakinan. Mata tajamnya melembut. "Tetap semangat ya, Dek. Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil. Kamu pasti sembuh. Aku percaya!"
Kata-katanya terasa menenangkan. Aku tak habis pikir, bertemu orang asing, tetapi mendapatkan doa yang begitu familiar dan menyejukkan hati. Hehehe 🤲
Tibalah aku di ranjang ternyamanku. Berbaring tenang, menutup mata perlahan, lalu berbisik dalam hati:
"Terima kasih, Tuhan Yesus, sudah menghibur hatiku lewat Bapak Ojol tadi."
***
Keesokan paginya, ada pesan WhatsApp yang masuk. Rupanya dari Bapak Ojol kemarin.
Pesan pertama sekaligus terakhir darinya, sejauh ini.
Terima kasih, Pak Mustofa. 🙏
***
📝 31/05/2025
📍 Wisdom park, UGM
Komentar
Posting Komentar