Keputusan terburuk
Memilihnya tetap tinggal disamping adalah kesalahan. Aku membencinya sekaligus mencintainya. Tapi tetap saja, tanpa dasar Tuhan di dalamnya, semuanya sia-sia. Ini adalah bagian hidupku yang paling hampa. Sungguh aku membencinya. Aku ingin Tuhan ambil hidupku, biar tidak hidup dengannya lagi. Aku sakit hidup bersamanya. Aku lemah karena dia. Sungguh! Menahan sesuatu yang begitu ngilu sepanjang hidupmu, bukankah memilukan? Capek ya Tuhan. Maaf ya Bapa. Aku ini bodoh.

