Bagian 4: Keajaiban sehari

Memulai hariku dengan kuliah tepat pukul 7.15 pagi. Mata ngantuk, langit mendung, cukup menantang perjalanan ke kampus. Ditambah angin AC yang berhembus aktif memenuhi sudut kelas, hmm makin layu mata ini. Tapi dosen cantik itu keren sekali. Caranya mengajar mampu membangunkan mataku sepanjang kuliah. Disusul tugas-tugas dan menyala pula kepalaku. Ungkapan ini semakin relevan: Ubur ubur ikan lele,  tugas bejibun menyala le 🔥

Seusai kelas pukul 9 pagi, buru buru aku ke loundry lalu pulang ke kosan. Mempersiapkan semua keperluan sebelum ke rumah sakit. Hari ini aku harus CT scan meski sadar bahwa waktu registrasinya sudah sangat telat alias kesiangan. Yah ini tetap jadi concern aku. Pendaftaran jalur BPJS sudah dikenal luas akan antriannya yang panjang. Tapi aku bertekad. Tetap ke rumah sakit sekarang. Minimal aku bisa CT Scan siang atau sore ini. Maksimal aku bisa dapat hasilnya dari dokter di besok hari. 

Tiba di Bethesda pukul 10 pagi. Betul saja, aku dapat nomor antrian ke 214. "Selamat menunggu 57 antrian lagi, Novaaa," menyemangati diri sendiri. 

Harus kuakui, pelayanan registrasi BPJS di rumah sakit ini sangat cepat. 10 loket siap melayani. Silih berganti memanggil nomor antrian pengunjung. Terkesima. 🥰

Tiba giliranku juga. Setelah menyerahkan surat rujukan dan registrasi dengan sidik jari, aku melenggang leluasa menuju poli paru. 

Aku langsung ditangani. Dan luar biasanya, segala pengukuran tensi, BB dan TB dilakukan langsung oleh seorang dokter muda. Kemanakah perawatnya ya? Mataku mencari cari ke sana ke mari, hehe. 

Ternyata hari ini ada jadwal dokter Iswanto. Dokter yang menaganiku beberapa hari lalu, yang juga buat janji temu untuk CT scan hari jumat besok. Padahal dipertemuan kemarin, perawatnya sempat bilang kalau dokter Iswanto hanya bertugas di hari selasa dan jumat setiap minggunya. Well, aku anggap ini keajaiban pertama di kamis yang manis. 🕊

Aku dipersilahkan menuju ruang pemeriksaan. Dokter Iswanto membuka kembali berkas berkasku. "Ya kamu harus CT scan segera karena surat rujukannya sudah ada," kata dokter. Aku mengiyakan sambil menerima berkas darinya. Tapi Ia kembali menarik berkas itu, dan menuliskan "22/05" di sudutnya, sebelum akhirnya berkas itu benar benar diserahkan padaku. 

Aku keluar dari ruangan pemeriksaan dan bertemu perawat. Aku lihat di atas meja kerjanya, begitu banyak berkas yang mirip punyaku. Perawat itu menerima berkasku dan meletakannya persis berdampingan dengan berkas berkas tersebut. Perawat itu bilang: "Ok mbak, jadwal CT scan-nya bulan depan ya". Aku kaget. Hah, masa iya sebulan lamanya menunggu? Waduuh.. Luar biasanya jadi pasien BPJS, hehehe. 

Melihat ekspresiku, perawatnya memastikan kembali berkasku. Dan akhirnya berucap: "Oh, maaf mba. Ternyata dokter sudah buat note khusus. Mba jadi CT scan sekarang juga". Lagi lagi aku terkesima. Ini keajaiban kedua menurutku. Mengingat berkas berkas yang sama seperti punyaku, sebenarnya juga mengantri penanganan yang sama, CT scan. 🕊

Aku kembali menyusuri koridor demi koridor. Tempat tujuanku bernama GBST. Entahlah aku tak tau apa kepanjangannya. Intinya itu unit radiologi. 

Setelah pendaftaran, namaku dipanggil juga. Ini giliranku. Saatnya memasuki ruangan MSCT yang sunyi. Hanya disambut seorang dokter dan sebuah alat yang begitu besar. Tubuhku harus meluncur ke dalam alat itu? Aku merinding.

Setelah berganti pakaian aku diminta berbaring di alat itu. Prosedur merinding ini harus terjadi. Setelah diberikan beberapa pengarahan dan siap, akupun dimasukkan ke dalamnya. Serasa ditelan seekor paus. Aku mencoba tenang dengan pikiranku, meski hatiku berulangkali bergumam: dalam nama Tuhan Yesus, tolonglah aku. Jantungku berdebar lebih cepat. 

Proses ini berlangsung sangat cepat. Kurang lebih 7-10 menit, dengan 3 kali masuk-keluar alatnya. Amazingnya lagi, hasil CT scan-nya sudah terekam otomatis dan terkirim langsung ke komputer dokternya. Aku hanya perlu kembali ke ruangan dokter untuk mendengar hasil dan keputusan lanjutannya. 

Itu sudah pukul 12 siang. Jam praktek dokter Iswanto sudah berakhir. Perawatnya memintaku kembali bertemu dokter di esok hari, jam 8 pagi. Ia juga berpesan agar aku tak perlu registrasi lagi untuk besok. Bisa langsung saja ke poli paru. Tentu, aku terkejut. Kembali memastikan, apa iya besok tanpa perlu registrasi kembali? Dan jawabnya sambil tersenyum: "Betul, mba". Aku anggap ini keajaiban ketiga. 🕊

Aku meninggalkan poli itu dengan hati yang riang. Berasa bebanku seharian ini diangkat Tuhan. Ringan langkah, penuh senyum. 

Saatnya memesan gojek dan kembali kosan. 

Karena hari ini masih terus berjalan. Aku harus kembali ke kampus. Ada janji konsultasi dengan dosen pembimbing tepat pukul 3 sore. Diwaktu yang sama, hujanpun pecah, setelah setengah hari ini, ia kelelahan  menahan awan gelap. Perjalanan kosan-kampus-kosan dengan drama hujan lebat. Nasib anak kuliah, demi badai apapun, janji harus ditepati. Apalagi itu berkaitan tentang penelitian tesisku. Ubur ubur ikan lele semangat Nova le 🔥

Hari yang panjang dengan cuaca yang berat. Aku ingin tidur yang nyenyak sebenarnya. Tapi, untuk berbaring saja aku ekstra berhati-hati. Tiap balik badan ke kiri maupun ke kanan, sakitnya dada kiriku. Ditambah batuk berdahak yang tidak mau kompromi. 

Andai saja aku bisa tidur tanpa gangguan ini. Aku ingin sekali Tuhan. Baiklah malam ini aku butuh sedikit hiburan. Tiktok jadi pilihan. Nonton mukbang, live jualan, pemberitaan sejoli luna dan maxime yang buat senyam senyum, terus saja aku scrolling naik turun. Sampai akhirnya lewatlah sebuah live streaming seorang pastor. 

Tanganku ingin scrolling lanjut, tapi hatiku menahan sedikit. Oke, kita coba nonton ya Nova! 

Pastor itu tergerak untuk mendoakan semua wanita yang menyaksikan live itu. Secara spesifik, ia akan mendoakan untuk wanita yang sakit: gusi berdarah, sariawan, telinga berdengung, jantung berdebar, tumor, kanker, sakit dada, pernafasan, asma, batuk berdahak, nyeri dada dan tulang, sakit hati dan juga kepahitan hidup. Aku terkaget-kaget. Ini sepertinya bukan kebetulan. Kenapa semuanya sama persis dengan keadaanku? Aku anggap ini adalah keajaiban lagi. 🕊

Aku langsung bangkit dan duduk di ranjang, hanyut dalam doanya. Bersungguh-sungguh aku katakan amin dan amin. Di dalam nama Tuhan Yesus, aku sembuh! Ibadah itu diakhiri dengan air mataku yang tak bisa dibendung. Tak mau kalah saing dengan hujan deras seharian ini. Huhuhu. 

Selesai doa berkat dan doa tidur, live streamingpun berakhir. Ada sukacita dihatiku. Ada harapan yang besar. Rupanya Iman yang diteguhkan, sekuat itu dampaknya. Aku bersiap tidur. 

Saat membaringkan tubuhku, aku kembali dibuat kaget. Sama sekali drama sakit di dada dan tulang itu hilang. Aku pastikan ulang. Berbalik tidur ke sisi lainnya. Sama! Rasa sakitnya tertinggal 5℅ dan itu hanya berlangsung sesaat. Ini ajaib. Sungguh keajaiban terjadi. Aku terima keajaiban lagi. 🕊 Dan takjubnya lagi, frekuensi batukku berkurang drastis. Sepertinya aku siap tidur nyenyak malam ini. 

Tidak berhenti hatiku mengucap syukur. Terima kasih Tuhan Yesus. Terima kasih Tuhan Yesus. Terima kasih Tuhan Yesus. Sungguh ajaib kau Tuhan. 🤍

Malam ini, lincahnya aku tidur dengan banyak gaya. Tanpa nyeri sedikitpun. 

Mode tidurku kembali normal seketika. Oh Tuhan 🥺 There are so many miracles for today, and all happens to me! 

I love you Jesus. I love you so much. 

📝 23/05/25
📍 Yogyakarta

Komentar

Postingan Populer