I Have A Dream

(Generated by Gemini AI)
Aku membayangkan pemberkatan pernikahan dilakukan pada pagi hari, ketika udara masih sejuk dan cahaya matahari terasa lembut. Namun jika nantinya hanya bisa dilakukan sore hari, aku tetap ingin semuanya berjalan sederhana dan hangat. Setelah pemberkatan selesai, aku ingin sebuah resepsi kecil yang intimate di area gereja saja, tanpa pesta besar dan tanpa kemewahan berlebihan. Aku hanya ingin dihadiri sekitar 50 orang, yaitu keluarga dan orang-orang terdekat yang benar-benar berarti dalam hidup kami.
Aku juga sudah membayangkan seperti apa penampilanku nanti. Aku ingin memakai jas putih dan celana panjang putih sebagai pengantin wanita. Sesuatu yang sederhana, modern, bersih, tetapi tetap terasa elegan dan sakral untuk sebuah pernikahan di gereja. Rambutku akan dibiarkan tergerai natural. Rambutku hitam, lurus, dan panjangnya sebahu. Aku tidak ingin tatanan rambut yang terlalu rumit karena aku ingin terlihat seperti diriku sendiri. Aku juga ingin memakai veil kecil dan simpel seperti bando, dengan kain transparan yang hanya sedikit menutupi bagian depan wajahku, bukan veil panjang yang menutupi seluruh wajah. Pasanganku nanti tetap memakai jas formal berwarna hitam. Perpaduan antara jas putih yang kupakai dan jas hitam yang dipakainya akan terlihat sangat sederhana tetapi indah di tengah suasana hijau Mauponggo. Di ujung saku jasnya, aku ingin ada sematan bunga putih kecil yang cantik sebagai detail sederhana yang membuat penampilannya terlihat semakin elegan dan hangat.
Aku juga ingin memegang buket bunga segar yang natural. Aku membayangkan bunga edelweis akan menjadi bagian dari buketku karena rasanya bunga itu cocok sekali dengan suasana Flores dan alam Mauponggo. Buket itu tidak perlu terlalu besar atau terlalu mewah, cukup sederhana, segar, dan hidup.
Untuk dekorasi gereja, aku ingin semuanya bernuansa putih dan hijau, dipadukan sedikit warna sage dan beige agar terasa hangat dan lembut. Aku membayangkan ada bunga-bunga indah di sepanjang jalan masuk gereja, lalu dekorasi sederhana di tempat kami berdiri untuk mengucapkan janji suci. Tidak terlalu penuh, tetapi tetap terasa sakral, romantis, dan menyatu dengan alam sekitar.
Setelah proses pemberkatan selesai dan kami keluar dari gereja, aku ingin ada prosesi sederhana melepaskan sepasang burung merpati putih di depan gereja. Diiringi udara Mauponggo yang bersih dan hamparan hijau di sekitar gereja, aku membayangkan momen itu menjadi simbol awal kehidupan baru, cinta, kedamaian, dan harapan baik untuk perjalanan rumah tangga kami nanti. Aku ingin momen itu terasa tenang, hangat, dan penuh syukur, sekaligus menjadi salah satu kenangan paling indah dari hari pernikahanku.
Untuk resepsi, aku tidak ingin ada panggung besar atau kursi pelaminan seperti pesta pada umumnya. Aku hanya ingin sebuah booth atau photobooth cantik dengan bunga putih dan dedaunan hijau sebagai tempat kami berfoto bersama keluarga dan para tamu. Tempat itu nantinya menjadi ruang sederhana untuk mengabadikan momen penting bersama orang-orang yang kami sayangi. Makanannya pun tidak perlu terlalu banyak menu. Aku justru ingin hidangan yang sederhana tetapi benar-benar layak, enak, dan terasa mewah dengan caranya sendiri. Hidangan yang mungkin tidak terlalu banyak pilihan, tetapi setiap makanan yang disajikan terasa istimewa, hangat, dan mempesona bagi para tamu yang datang. Bagiku yang paling penting bukan kemeriahan pestanya, tetapi suasana hangat, sakral, dan rasa syukur karena akhirnya bisa memulai hidup baru bersama orang yang kucintai di tempat yang begitu indah seperti Mauponggo.
Aku membayangkan!
📌A dream on 12/05/26
📍My favorite corner of Yujiem Library
Komentar
Posting Komentar