Bagian 8 : Darah segar di minggu pagi

Cukup lama ya akhirnya aku punya niatan untuk menulis lagi, atau lebih tepatnya melanjutkan tulisan yang sempat berhenti di tengah jalan. Berawal dari sebuah mimpi random di tahun 2026 ini, tiba-tiba aku merasa masih menyisakan banyak “utang” untuk menuliskan kenangan bagi diriku sendiri — tentang bagaimana perjalananku berjalan bersama Jesus, terutama dalam menghadapi persoalan kesehatanku beberapa tahun terakhir.

Tahun 2025 kemarin, aku hanya sempat menuliskan memori dan perjalanan itu sampai bagian ketujuh, tepatnya di bulan Juli. Setelah itu, semuanya terasa berjalan begitu cepat. Hari-hariku dipenuhi banyak hal, terutama penelitian yang perlahan menyita hampir seluruh waktuku. Sampai pada akhirnya, aku sadar bahwa ada banyak cerita, doa, ketakutan, harapan, dan pertolongan Tuhan yang belum sempat kutuliskan.

Lucu juga ya, ternyata di tengah kesibukan yang terus datang, ada bagian kecil dalam diriku yang masih ingin menyimpan semuanya dalam bentuk tulisan. Bukan untuk siapa-siapa, mungkin lebih untuk diriku sendiri. Supaya suatu hari nanti aku bisa kembali membaca bagaimana Tuhan menuntunku melewati masa-masa yang tidak mudah itu.

Dan entah kenapa, mimpi random (baca: I have a Dream) itu seperti menjadi pengingat kecil untuk mulai membuka kembali halaman yang sempat kutinggalkan.

Hehehe… jadi mungkin sekarang aku ingin mencoba melanjutkan ceritanya lagi. Sebisaku. Pelan-pelan. Di sela waktu yang tersisa dari semua kesibukan dan penelitian yang masih harus kuselesaikan.

***

Itu pagi yang indah.
3 Agustus 2026 akan menjadi hariku mengikuti Perjamuan Kudus di gereja. Aku selalu menantikan awal bulan, karena ada perjamuan yang sungguh kutunggu-tunggu. Perjamuan yang aku imani akan membawa kesembuhan bagi tubuhku.

Pagi itu terasa semakin lengkap karena menjadi hari pertamaku kembali bertemu sahabat lamaku, Mazer dan Bazer beserta keluarga kecil mereka. Ya, di akhir bulan sebelumnya kami sepakat untuk tinggal bersama dalam sebuah kontrakan di daerah Pandega Wreksa, Yogyakarta. Mereka akan memulai perkuliahan baru di UGM, dan kami merasa tinggal bersama akan menjadi keputusan yang baik untuk banyak hal — kesehatanku, silaturahmi, penghiburan, juga semangat belajar yang bisa terus saling menguatkan.

Pagi itu kami mulai menyicil beberapa perabotan rumah. Bersama Bazer, aku sempat mengambil pesanan kompor untuk dipakai bersama di kontrakan. Semuanya terasa begitu normal dan menyenangkan. Aku bahkan membayangkan hari-hari baru yang hangat akan dimulai dari rumah kecil itu.

Namun sesampainya di kos, ketika aku masuk ke kamar mandi untuk bersiap ibadah ke gereja, sesuatu terjadi.

Saat menyikat gigi dan mengeluarkan sedikit dahak, aku melihat ada bercak darah di dahak yang kubuang. Awalnya aku mencoba berpikir tenang. Mungkin hanya gusi berdarah. Hal biasa saat menyikat gigi.

Tetapi beberapa menit kemudian, saat aku mulai berpakaian di kamar, batukku kembali keluar — kali ini bersama darah segar.

Tubuhku langsung gemetar.

Itu adalah hal yang paling kuhindari. Hal yang selama ini paling kutakuti dari seluruh kondisi kesehatanku: jangan sampai batukku mengeluarkan darah. Karena bagiku, darah segar selalu terasa seperti tanda bahaya paling serius.

Namun pagi itu, hampir setiap kali aku batuk, darah kembali keluar.

(Image for illustration only)

Aku mulai gelisah. Panik. Takut.

Tetapi di saat yang sama aku tidak ingin Mazer dan Bazer, yang baru saja datang bersama dua anak balita mereka, ikut panik atau kerepotan karena keadaanku.

Perlahan aku memberanikan diri menyampaikan semuanya kepada Mazer.

Dan aku masih ingat sekali bagaimana tenangnya respons dia saat itu. Ketenangannya sangat menolongku untuk tetap berpikir jernih.

Tanpa banyak drama, dia segera mengajakku pergi ke IGD.

“Ayo periksa sekarang. Ini langkah yang bagus,” katanya pelan.
“Tidak ada sakit yang tidak bisa diobati. Semakin jelas gejalanya, justru semakin bagus untuk diperiksa. Dan mumpung kamu di Jogja, fasilitas kesehatannya lebih memadai dibanding di kampung.”

Aku sempat bimbang sepanjang perjalanan menuju keputusan itu. Pergi ke dokter atau tidak. Tetapi akhirnya aku ikut ke IGD bersama Mazer.

Sepanjang jalan aku masih shock. Aku lebih banyak diam.

Hari itu aku memilih IGD RS Panti Rapih, bukan Bethesda, tempat terakhir aku berobat sebelumnya. Ada dorongan dalam diriku untuk mendapatkan pandangan lain, pilihan pengobatan lain, dan mungkin diagnosis yang lebih berimbang tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam tubuhku. Itu juga yang kusampaikan kepada Mazer.

Sesampainya di IGD, aku langsung diregistrasi. Dan memang sengaja, aku tidak terlalu banyak menjelaskan riwayat pemeriksaan sebelumnya di Bethesda. Aku ingin dokter di sini melihat kondisiku dari awal, tanpa terlalu dipengaruhi hasil sebelumnya.

Aku segera dibaringkan di bed IGD. Darah diambil. Dahak diperiksa. Infus dipasang. Aku juga diberikan obat anti pendarahan sambil menunggu perkembangan kondisiku beberapa jam ke depan.

Perlahan, darah segar yang keluar mulai berkurang. Yang tersisa hanya samar-samar bercampur lendir.

Tetapi siang itu perawat memintaku untuk langsung opname.

Aku keberatan.

Yang langsung terlintas di pikiranku justru kerepotan administrasi, menginap sendiri di rumah sakit, semua urusan yang terasa melelahkan untuk kuhadapi sendirian. Aku sempat meminta izin untuk pulang saja dan kembali lagi besok untuk berobat.

Namun beberapa saat kemudian, dokter jaga IGD datang menemuiku langsung. Ia menanyakan alasan kenapa aku menolak opname dan dengan cukup serius menyarankan agar aku tetap tinggal malam itu juga.

Dengan mempertimbangkan kondisi kesehatanku, juga urusan administrasi BPJS dan rujukan yang mungkin justru lebih rumit bila aku pulang terlebih dahulu, akhirnya dengan berat hati aku menyetujui untuk opname hari itu juga. 

Semua urusan administrasi dibantu oleh Mazer. Dan siang itu aku ditemani oleh Bazer di rumah sakit, sementara Mazer harus kembali ke kontrakan untuk menjaga anak-anak.

Aku masih ingat ketika akhirnya berbaring sendiri di ruang rawat inap itu.

Aku memandang sekeliling ruangan dengan perasaan campur aduk. Takut. Sedih. Lelah.

Lalu mataku berhenti pada sebuah salib yang tergantung di bagian atas dinding kamar itu yang menghadap tepat depan tempatku tidur.

Dan entah kenapa, di tengah rasa takut yang besar, aku merasa dikuatkan.

Hari itu terasa sangat berat. Tetapi Tuhan seperti mengirim sahabatku tepat waktu — tepat di saat aku sedang berada dalam ketakutan paling besar tentang darah segar itu akhirnya muncul. Dan lewat mereka, Tuhan membawaku ke rumah sakit yang terasa begitu ramah dan hangat, rumah sakit yang membuatku merasa dekat dengan Tuhan bahkan sejak pertama kali aku masuk ke dalamnya.

***

Akhirnya malam itu, aku tidak benar-benar sendirian.

Aku ditemani seorang adik kecil yang manis dan baik hati, Lena. Sesama orang Ende yang juga sedang menempuh studi magister di UGM. Kehadirannya malam itu menjadi penghiburan kecil yang begitu berarti bagiku.

Di tengah ruang rawat inap yang asing, dingin, dan penuh kecemasan, Tuhan kembali menghadirkan seseorang untuk menemaniku bertahan melewati malam panjang itu.

Aku masih ingat bagaimana Lena memilih tetap tinggal bersamaku malam itu. Beralaskan karpet tipis di lantai rumah sakit yang dingin, dia tetap bertahan menemani tanpa banyak mengeluh. Hal sederhana yang mungkin terlihat kecil bagi orang lain, tetapi sangat besar bagiku saat itu.

Terima kasih, Lena.

Terima kasih karena sudah mau tinggal dan bermalam di ruang rawat itu. Terima kasih karena kehadiranmu membuat rasa takutku sedikit berkurang malam itu. Dan terima kasih karena, tanpa sadar, kamu menjadi salah satu cara Tuhan menguatkanku di hari yang begitu berat itu.

Aku juga ingat, sepanjang hari itu setelah Bazer kembali ke kontrakan, suasana kamar rawat kami justru perlahan berubah menjadi penuh cerita dan tawa. Bukannya murung atau diam dalam ketakutan, kami malah banyak bercerita, bercanda, dan ngakak bersama seperti dua orang yang sudah lama tidak bertemu.

Lena memang punya banyak sekali cerita lucu yang entah bagaimana berhasil menghiburku malam itu. Sampai-sampai kami sempat ditegur keluarga pasien di bed sebelah karena terlalu ribut tertawa. Hehehe…

Dan lucunya, di tengah infus, aroma rumah sakit, rasa takut tentang penyakitku, dan segala kecemasan yang kupikir akan membuat malam itu terasa sangat panjang, Tuhan justru menyisipkan tawa kecil di sana.

Mungkin memang seperti itu cara Tuhan bekerja kadang-kadang.
Di tengah ketakutan terbesar, Dia tidak selalu langsung menghilangkan masalahnya, tetapi Dia mengirim orang-orang yang membuat kita tetap kuat menjalaninya.

📌03/08/25

📍RS Panti Rapih, Yogyakarta


Komentar