Bagian 6: Gejolak Emosi
Sejak vonis dokter yang menyatakan aku mengidap tumor paru, pikiran dan perasaanku seperti tak lagi berjalan beriringan. Segalanya terasa kabur dan sulit dikendalikan. Waktu berjalan cepat, dan aku harus segera menentukan jadwal biopsi sebelum tanggal 24 Juni 2025. Hanya beberapa minggu tersisa untuk mengambil keputusan yang berat dan tidak sederhana.
Pikiranku mengembara jauh—menyusuri dunia dan langit, melampaui surga dan neraka. Ia terus mengajak jiwa ini terbang mencari cari sarang baru, siang dan malam. Perasaan pun ikut berlayar, mengibar air mata dan air mata lagi, lelah mata—membasahi bantal dan guling. Ada penyesalan yang datang bergelombang, keputusasaan yang terus menggema, dan kemarahan yang terarah pada diri sendiri. Aku si anak manusia yang tidak beruntung!
Hal yang paling mudah dilakukan adalah menyalahkan keadaan atas penyakit ini. Masa lalu dan masa kini terasa seperti dua bayangan yang bersama-sama meredupkan harapan masa depanku.
Sungguh, aku benci hidup ini.
Benci ketika dorongan menyalahkan orang lain itu muncul, walaupun aku tahu itu bukan kebenaran yang ingin kupercaya. Hatiku justru semakin sakit ketika orang terdekatku harus meminta maaf atas sesuatu yang ia sendiri tak kuasa kendalikan.
Terjadi lagi. Perlakuan tidak mengenakkan di masa lalu begitu membekas dan melukai hatiku. Pikiran negatif berhasil kembali mengambil jiwaku. Padahal, baru saja beberapa minggu yang lalu aku berusaha melepaskan semua kepahitan. Oalah, betapa susahnya melakukan daripada berucap. Jangankan Tuhan, akupun muak dengan sikap plin-planku ini.
***
🐾 Mei, 2025
📍Karangwuni

Komentar
Posting Komentar